Penelitian bagi Guru TK

Ada sebuah agenda VALID Consulting akhir-akhir ini yang agak berbeda dengan fokus garapannya selama ini. Jika tim VALID selama ini lebih banyak memberikan konseling pendampingan bagi penelitian yang dilakukan oleh para akademisi dan praktisi (baik personal maupun kelembagaan) atau langsung melakukan penelitian lapangan bagi instansi swasta maupun pemerintah, kali ini Valid bersentuhan dengan para guru TK di provinsi DIY. Lho…kok bisa? Apa hubungannya?

Ya jelas banyak hubungannya J!

Kali pertama tim VALID Consulting berinteraksi dengan para guru TK sebenarnya justru berasal dari tawaran kerjasama sebuah lembaga keuangan syariah terbesar di Yogyakarta, yang ingin memposisikan VALID sebagai salah satu value added pada salah satu produk yang ditawarkannya. Dalam sebuah pertemuan rutin IGRA (Ikatan Guru Raudhatul Athfal) Kabupaten Sleman pada 13 Januari 2009, VALID selaku rekanan turut hadir dalam acara yang diisi dengan presentasi dan pengenalan produk perbankan syariah mereka. Tak disangka, antusiasme para guru-guru TK di bawah naungan Departemen Agama tersebut berkaitan dengan objek garapan VALID, sangat menggembirakan. Respon yang muncul (justru) setelah forum selesai menunjukkan bagaimana mereka membutuhkan konseling tentang sebuah proses penelitian dengan metodologi yang tepat. Bahkan sempat muncul lontaran dari Sang Ketua, yang meminta tim VALID untuk mengisi forum Workshop yang akan diadakan Februari 2009.

Pemberlakuan UU No.14 tahun 2005 dimana guru diakui sebagai sebuah profesi yang sejajar seperti halnya dosen dalam dunia akademis, menuntut adanya peningkatan kompetensi para guru di ranah  knowledge construction. Tak pelak, setiap guru, termasuk guru TK dituntut mampu melakukan penelitian sebagai penjawaban atas problematika dalam proses belajar mengajar yang mereka hadapi sehari-hari. Penelitian seharusnya membudaya diantara jiwa pendidik karena terlibatnya seorang guru dalam dunia penelitian diyakini bakal menjadi salah satu penentu utama meningkatnya wawasan dan kemampuan mendidik mereka. Proses penelitian, mau tidak mau, akan mendorong seorang guru untuk terus membaca. Dunia penelitian memungkinkan para guru itu untuk terus melakukan refleksi pada setiap kegiatan pengajaran yang mereka lakukan.

Bak gayung bersambut, paska forum pertemuan itu, seorang relasi mengenalkan VALID kepada salah seorang pengurus IGRA Kota Yogyakarta. Melalui Ibu Salsiayah selaku sekretaris IGRA Kota Yogyakarta, VALID Consulting akhirnya diundang sebagai pembicara dalam sebuah pertemuan rutin IGRA Kota Yogyakarta, 24 Januari 2009. Jujur, saat itu Mbak Yenni, sang komandan  VALID Consulting, sempat bingung tentang content yang akan disampaikan kepada para guru-guru tersebut mengingat terbatasnya waktu yang disediakan bagi masing-masing pembicara (90 menit per-pembicara). Mbak Yenni akhirnya memutuskan forum itu lebih pas jika dijadikan forum dialog alias forum curhat daripada dijadikan forum training seperti yang tertera di undangan.  

Sabtu, 24 Januari 2009. Pukul 11.00, Mbak Yenni yang datang bersama Dita, anggota tim termuda VALID, sudah harus sampai di lokasi. Akibat adanya agenda dadakan di forum IGRA Kota Yogyakarta tersebut, Mbak Yenni harus memundurkan jadwal konseling bagi 2 klien VALID yang dipegangnya. Bukan perkara mudah, mengingat salah satu diantara klien tersebut adalah orang yang demikian sibuk dan tidak bisa asal mengganti agenda aktifitasnya. Presentasi dan forum curhat itu berjalan lancar meski sempat ada kejadian lucu yang cukup tak diharapkan. Dita, yang saat itu juga kebagian tugas untuk ngambil gambar suasana forum, saking asyiknya menikmati diskusi antara Mbak Yenni dengan para guru IGRA Kota Yogyakarta, sampai lupa tidak mengambil satu gambarpun dalam sesi itu. Untung, setelah Mbak Yenni menutup forumnya, Dita terus ingat dan langsung buru-buru jepret sana jepret sini….walhasil…..foto yang terpampang di postingan kali ini sebenarnya bukan foto ketika forum berlangsung tapi foto setelah forum sudah selesai…alias sudah pada kabur sana-sini J

“Subhanallah…semangat belajar ibu-ibu itu luar biasa!”, satu kalimat yang keluar dari Mbak Yenni ketika ditanya tentang bagaimana jalannya forum. “Mereka hanya butuh diyakinkan, bahwa mereka sebenarnya mampu melakukan penelitian yang mendukung proses mengajarnya. Semoga pemerintah dan semua pihak bisa memfasilitasi keinginan luar biasa tersebut”.

Lho Mbak, kok Ibu-ibu sih? Bukannya pas di forum IGRA Sleman bapak-bapaknya juga ada?

“He he…kalo yang di IGRA Kota…gurunya semua ibu-ibu J”. Waduh! Bapak-bapaknya kemana, dong?

Sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian para guru TK di lingkungan Kota Yogyakarta dan sebagai bentuk upaya untuk memasyarakatkan penelitian di kalangan para guru, VALID Consulting akhirnya memberikan konseling gratis bagi para guru TK dibawah naungan IGRA Kota Yogyakarta, yang membutuhkan pendampingan atau sekedar bahan untuk memeprluas wawasan tentang penelitian. Adapun konseling dilakukan di kantor VALID Consulting, Karangploso Maguwoharjo Sleman Yogyakarta pada jam kerja (08.30 – 16.30). 

Sigmund Freud dan Teori Psikoanalisis

Terlepas dari segala pro kontra teori ini, Psikoanalisis harus diakui sebagai bagian penting dari kekayaan dunia Psikologi modern. Dan ketika kita mulai menjelajahi “jiwa” teori ini maka kita akan menemukan bahwa teori ini tak dapat dilepaskan dari peran seorang Freud, meski sebenarnya dia bukanlah orang yang pertama mengemukakan teori kepribadian yang berkaitan dnegan alam bawah sadar ini, Melalui eksperimen panjang dan melelahkan, Freud akhirnya berhenti pada sebuah kesimpulan bahwa kehidupan individu sebagian besar dikuasai oleh alam bawah sadarnya, sehingga tingkah laku individu banyak didasari oleh hal-hal yang juga tak disadari, seperti keinginan, impuls atau dorongan. Keingan atau dorongan yang ditekan akan tetap hidup dalam alam bahwa sadar dan sewaktu-waktu akan menuntut untuk dipuaskan.

 

Freud mengembangkan teknik Psikoanalisis sebagai suatu metode penyembuhan penyakit kejiwaan, dan dia merumuskan teori tentang struktur pribadi manusia yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah teori psikologi yang bersangkutan dengan rasa cemas, mekanisme mempertahankan diri, rasa tertekan, sublimasi dll. Freud mungkin paling terkenal dalam hal pengusulan gagasan bahwa gairah seksual yang tertekan seringkali menjadi penyebab penting dalam hal penyakit jiwa atau neurosis. Dia juga menunjukkan bahwa gairah seksual dan nafsu seksual bermula saat masa kanak-kanak dan bukannya pada saat dewasa. 

 

Psikoanalisis

Psikoanalisis sampai saaat ini dianggap sebagai salah satu gerakan revolusioner di bidang psikologi yang dimulai dari satu metode penyembuhan penderita sakit mental, hingga menjelma menjadi sebuah konsepsi baru tentang manusia. Hipotesis pokok psikoanalisis menyatakan bahwa tingkah laku manusia sebagian besar ditentukan oleh motif-motif tak sadar, sehingga Freud dijuluki sebagai bapak penjelajah dan pembuat peta ketidaksadaran manusia.

 

Ada tiga orang yang dianggap sangat berpengaruh tehadap pemikiran Freud selanjutnya, yaitu: Franz Anton Mesmer, menemukan teori mesmerisme yang selanjutnya oleh James Braid diistilahkan sebagai hipnotisme, Philippe Pinel, yang mengubah jalan pemikiran kita terhadap penyakit mental dan bagaimana memperlakukannya, dan yang terakhir adalah Jean-Martin Charcot, yang sering dianggap sebagai bapak neurologi.

 

Alam Sadar, Alam Pra-Sadar dan Alam Bawah Sadar

 Dalam teori tentang alam sadar (conscious mind), Freud menjelaskan bahwa alam sadar adalah segala sesuatu yang disadari oleh manusia pada saat-saat tertentu, penginderaan langsung, ingatan, pemikiran, fantasi dan perasaan yang dimiliki manusia. Terkait dengan alam sadar ini adalah apa yang dinamakan oleh Freud sebagai alam pra-sadar, yaitu segala sesuatu yang yang dengan mudah dipanggil ke alam sadar, seperti kenangan-kenangan yang walaupun tidak Anda ingat ketika Anda berfikir, tetapi dapat dengan mudah dipanggil lagi, atau seringkali disebut sebagai “kenangan yang sudah tersedia” (available memory). Tidak ada masalah dengan dua lapisan ini, namun Freud mengatakan ahwa keduanya adalah bagian terkecil dari pikiran.

 

Adapun bagian terbesarnya adalah alam bawah sadar (unconscious mind). Bagian ini mencakup segala sesuatu yang sangat sulit dibawa ke alam sadar, seperti nafsu dan insting kita serta segala sesuatu yang masuk ke dalamnya karena kita tidak mampu menjangkaunya, seperti kenangan pahit atau emosi yangterkait dengan trauma. Freud berpendapat bahwa alam bawah sadar adalah sumber dari motivasi dan dorongan yang ada dalam diri kita, apakah itu hasrat yangs ederhana seperti makanan atau seks, daya-daya neurotik, atau motif yang mendorong seorang seniman atau ilmuwan berkarya. Namun anehnya, menurut Freud, kita sering terdorong untuk mengingkari atau menghalangi seluruh bentuk motif ini naik ke alam sadar. Oleh karena itu, motif-motif itu kita kenali dalam wujud samar-samar.

 

Konsep alam bawah sadar Freud sering didera kritik. Kalangan behavioris, humanis dan eksistensialis oercaya bahwa:

  1. Dorongan-dorongan dan persoalan-persoalan yang dikaitkan dengan alam bawha sadar ternyata lebih sedikit dari perkiraan Freud,
  2. Bahwa alam bawah sadar ternyata tidak serumit dan sekompleks yang dibayangkan Freud. Sebagian psikolog masa kini mengartikan alam bawah sadar dengan apa pun yang tidak perlu atau tidak ingin kita lihat. Bahkan ada teoritikus yang tidak menggunakan konsep alam bawah sadar ini sama sekali.

 

 

Berbohong dengan Statistik

Statistika memainkan peranan yang semakin penting hampir dalam semua tahap usaha manusia saat ini. Kemampuan statistik menampilkan dan menyelesaikan persoalan yang kompleks dalam wujud angka, telah menjadikan metode yang berdayaguna untuk menentukan pilihan.Walaupun demikian, saat ini banyak pihak yang menganggap statistik sebagai pisau bermata dua. Selain kontribusinya pada dunia penelitian, statistik bisa membuat fakta tampak berbeda, keliru bahkan menyesatkan ketika berada pada tangan yang salah. Banyak kasus serupa yang dihadapi akhir-akhir ini, mulai dari quick count pilkada hingga penafsiran jumlah angka kemiskinan yang selalu berbuntut pada sebuah kesimpulan ketidakindependensian bahwa semua angka-angka tersebut tidak akan pernah lepas dari siapa yang mengeluarkan.
Benjamin Disraell (1804 – 1881) mengatakan bahwa ada tiga macam kebohongan di dunia ini, yaitu ngibul, bohong dan statistik. Kendati peringatan ini telah berusia lebih dari seabad, statistik yang menyesatkan masih relevan pada situasi saat ini. Masih ingat iklan “ 7 dari 10 perempuan menggunakan produk X”? atau “2 dari 5 perempuan Indonesia terkena osteoporosis”? Jika anda tidak berhati-hati maka Anda akan menelan “hasil riset” itu bulat-bulat. Dalam bukunya “Berbohong dengan Statistik”, Darrel Huff bahkan melabeli bukunya dengan “buku panduan bagi para penipu” karena dengan sangat gamblang dia paparkan cara-cara menggunakan statistik untuk mengelabui. Tetapi di lain sisi, buku tersebut seakan dimaksudkan bagi para pengguna statistik agar tidak selalu menelan bulat-bulat sebuat statemen dengan content statistik. Agar orang jujur tidak selau tertipu dan dibodohi oleh statistik.

STATISTIKULASI

Sampel yang Pada Dasarnya Sudah Bias
Memberi informasi yang salah dengan menggunakan bahan-bahan statistik bisa dikatakan memanipulasi statistik. Statistikulasi, demikian Huff menyebutnya, karena Anda dapat menggunakan statistik untuk manipulasi. Jika ada sebuah perusahaan yang butuh untuk menyakinkan masyarakat bahwa produknya digunakan 7 wanita dari 10 wanita Indonesia, maka perusahaan tersebut hanya perlu menanyai semua wanita yang lewat di depan mall di sebuah kota di Indonesia. Dan ketika 70 dari 100 wanita tersebut menyatakan “ya, saya menggunakan produk itu maka akan muncul penyimpulan: 7 dari 10 wanita Indonesia mengguankan produk saya. Anda bisa melihat bagaimana generalisasi sampel yang bias terjadi di sini. Bayangkan…dari sebuah mall di sebuah kota (mungkin terpencil) Anda bisa mengeneralisasinya seakan-akan produk tersebut dipakai oleh seluruh wanita Indonesia!
Contoh lain, misalkan seseorang mengirim 1000 angket kepada sekelompok masyarakat di kota A, dimana salah satu pertanyaannya adalah: “Sukakah Anda mengisi angket?”. Tak lama berselang, dari 1000 angket yang dikirimkan, 200 diantaranya kembali. Dan dari 200 angket yang kembali tersebut, semuanya mengatakan “Ya, saya suka mengisi angket”. Parahnya, sang periset selanjutnya membuat kesimpulan yang dipublikasikan bahwa: “Masyarakat kota A suka mengisi angket”. Jelas kesimpulan tersebut sangat bias, karena Sang periset tidak memperhitungkan 800 angket yang tak kembali. Bisa jadi, angket yang tak kembali tersebut disebabkan karena masyarakat tidak suka dengan angket karena mereka tidak punya waktu untuk mengisinya. Kesalahan besar periset adalah, dia mengambil kesimpulan dari sampel yang bias, yaitu 200 sampel dari 1000 kuesioner yang dia sebarkan, dengan mengabaikan 800 kuesioner yang tak kembali.

Mean dengan Pencilan
Ada sebuah hasil penelitian sekelompok mahasiswa KKN yang dilakukan di sekitar kantor Valid Consulting, yang menyebutkan bahwa penduduk masyarakat di sana berpenghasilan rata-rata Rp 3 juta/bulan. Kami langsung melotot ketika membaca angka tersebut. Bagaimana mungkin, penduduk yang rata-rata berprofesi sebagai petani penggarap, buruh pabrik bahkan pengangguran memiliki penghasilan sebesar gaji anggota KPU kabupaten per-bulannya? Salah seorang personil Valid bertanya kepada mahasiswa tersebut:
“Berapa sampel yang Anda gunakan?”
“Kami tidak menggunakan sampel, kami melakukan survei. Semua populasi di seluruh RW ini, kami interview. Jumlah total populasi 210 jiwa”, tutur kepala suku mahasiswa KKN tersebut, mantap.
Kami sudah mulai curiga dengan kata “survey” disana. Jangan-jangan, mereka tidak melakukan filter data dan mengeluarkan pencilan data yang ada pada responden mereka. Dan ternyata benar! Di wilayah RW tersebut tinggal 2 orang pengusaha, satu orang berkebangsaan Korea yang memiliki pabrik sarung tangan golf dengan omset bulanan hampir 1 Milyar rupiah dan seorang pengusaha lokal yang “jualan” gypsum dengan omset Rp 250 juta/bulan. Bisa Anda bayangkan, apa jadinya ketika penghasilan seluruh RW (termasuk 2 orang pengusaha tersebut) dirata-rata jadi satu?

Buat kami, yang paling menyedihkan ketika hasil penelitian mereka selanjutnya dimuat dalam jurnal penelitian di kampus mereka dengan tajuk: “Keberhasilan Petani di RW X dalam meningkatkan kualitas hidupnya”.

Telepoling
Dalam sebuah survei yang dilakukan melalui media telepon rumah (kabel) di kota-kota besar di Indonesia, seorang peneliti menanyakan “Apakah Anda kenal Barack Obama?” 90% responden menyatakan mereka mengenal Obama. Peneliti selanjutnya menyimpulkan “Barack Obama sangat populis di Indonesia”. Kami nyengir membacanya.
Kesalahan pertama, peneliti melakukan survei sampel menggunakan telepolling. Bisa Anda hitung, berapa banyak penduduk Indonesia yang memiliki telepon di rumahnya? Telepon rumah masih menjadi barang mewah di negeri ini, jadi sampel dalam penelitian tersebut hanya mammpu mencover kalangan menengah ke atas, dengan menafikkan masyarakat Indonesia, yang sebagian besar tidak memiliki telefon rumah.
Kesalahan kedua, penelitian mengeneralisir kesimpulan. Penelitian tersebut akan “oke-oke” saja jika peneliti tidak mengenalisirnya menjadi “masyarakat Indonesia”. Kami yakin, hanya segelintir pendududk Indonesia yang peduli dengan terpilihnya Obama. Sisanya? Seorang ibu yang tinggal di lingkungan kami menjawab, “EGP (Emang Gue Pikirin) Obama! Emang kalo Obama kepilih trus aku bisa beli beras murah? Bisa bayar sekolah anakku yang udah nunggak 3 bulan? Bisa dapet kerjaan yang selaen jadi buruh?

***

Sumber:
Huff, Darell & Geis, Irving. 1973. How to Lie with Statistics. Penguin Books.
Valid Consulting. 2008. Catatan Harian Riset. Hasil observasi dan inteview. Tidak diterbitkan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.