Pengertian Public Relations

Menurut para pakar, hingga saat ini belum terdapat konsensus mutlak tentang definisi dari public relations/ humas. Ketidaksepakatan tersebut disebabkan oleh 1). Beragamnya definisi public relations yang telah dirumuskan baik oleh pakar maupun profesional public relations. 2). Perbedaan latar belakang. 3). Adanya indikasi baik teoretis maupun praktis bahwa kegiatan public relations bersifat dinamis dan fleksibel terhadap perkembangan dan kemajuan zaman.

Sebagai acuan, salah satu definisi public relations yang diambil dari The British Institute of Public Relations, berbunyi : 1.) “ Public Relations activity is management of communcations between an organization and its publics” (Aktivitas Public Relations adalah mengelola komunikasi antara organisasi dan publiknya). 2.) “Public Ralations practice is deliberate, planned and sustain effort to establish and mauntain mutual understanding between an organization and its public” (Praktik Public Relations adalah memikirkan, merencanakan dan mencurahkan daya untuk membangun dan menjaga saling pengertian antara oraganisasi dan publiknya).

Setelah mengkaji kurang lebih 472 lebih definisi Humas, Dr. Rex Harlow dlam bukunya berjudul: A Model for Public Ralations Edication for Profesional Practices yang diterbitkan oleh International Public Ralations Association (IPRA) 1978, menyatakan bahwa definisi dari public relations adalah ; “Public Relations adalah fungsi manajemen yang khas dan mendukung pembinaan, pemeliharaan jalur bersama antara organisasi dengan publiknya, menyangkut aktivitas komunikasi, pengertian, penerimaan dan kerja sama; melibatkan manajemen dalam menghadapi persoalan/ permasalahan, membantu manajemen untuk mampu menanggapi opini publik; mendukung manajemen dalam mengikuti dan memanfaatkan perubahan secara efiktif; bertindak sebagai sistem peringatan dini dalam mengantisipasi kecenderungan penggunaan penelitian serta teknik komunikasi yang sehat dan etis sebagai sarana utama”

Definisi tersebut adalah definisi paling lengkap dan akomodatif terhadap perkembangan dan dinamika public relations. Sebab terdapat aspek cukup penting dalam public relations yaitu, teknik komunikasi dan komunikasi yang sehat dan etis. Namun para ahli public relations menanggapi difinisi yang dirumuskan oleh Dr. Rex Harlow tersebut terlalu panjang. Maka wakil dari pakar public relations dari negara maju mengadakan pertemuan di Mexico City pada bulan Agustus 1978. Pertemuan tersebut menghasilkan definisi public relatons yang lebih singkat dinamakan The Statement of Mexico, defnisi tersebut berbunyi : “ Praktik Public Relations adalah seni dan ilmu pengetahuan sosial yang dapat dipergunakan untuk menganalisis kecenderungan, memprediksi konsekuensi – konsekuensinya, menasehati para pemimpin organisasi dan melaksanakan program yang terencana mengenai kegiatan – kegiatan yang melayani, baik untuk kepentingan organisasi maupun kepentingan publik atau umum”.

Terdapat perbedaan penekanan dalam unsur – unsur pokok dalam kedua definisi tersebut, baik yang berasal dari Dr. Rex Harlow dan Prof. Jhon Marston (1978), maupun dari The Statement of Mexico 1978 terdapat banyak kesamaan dalam unsur – unsur utama yang menyangkut :

  1. Fungsi manajemen melekat yang menggunakan penelitian dan perencanaan yang mengikuti standar – standar etis.
  2. Suatu proses yang mencakup hubungan timbal balik antara organisasi dan publiknya.
  3. Analisis dan evaluasi melalui penelitian lapangan terhadap sikap, opini dan kecenderungan sosial, serta mengkomunikasikannya kepada pihak manajemen.
  4. Konseling manajemen untuk dapat memastikan kebijaksanaan dan tata cara kegiatan dapat dipertanggungjawabkan secara sosial dalam konteks demi kepentingan bersama bagi kedua belah pihak.
  5. Pelaksanaan program aktivitas yang di dalamnya terdapat perencanaan, pengkomunikasian dan pengevaluasian.
  6. Perencanaan dengan itikad yang baik, saling pengertian dan penerimaan dari pihak publiknya ( internal dan eksternal ) sebagai hasil akhir dari aktivitas public relations/ Humas.

Keenam unsur tersebut menunjukkan adanya hubungan kait mengakait secara holistik. Kesaling – terkaitan ini merupakan proses berkesinambungan dalam fungsional public relations yang integral dengan manajemen organisasi dalam upaya mencapai tujuan bersama dan sasaran utama badan usaha atau oraganisasi.

Referensi :

Ruslan, Rosady. 2003. Manajemen Public Relations Dan Media Komunikasi. Jakarta. PT RajaGrafindo Persada.

About these ads
Explore posts in the same categories: Uncategorized

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: