Peran Emosi dan Motivasi dalam Proses Pembelajaran

Emosi diartikan sebagai tergugahnya perasaan yang disertai dengan perubahan-perubahan dalam tubuh, misalnya otot menegang, jantung berdebar (Kartono dalam Sugiharto, 2007). Dan motivasi diartikan sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, yang memberi arah dan ketahanan pada tingkah laku tersebut. Emosi dan motivasi memberi warna pada perilaku manusia sehari-hari dan juga sangat berpengaruh dalam keberhasilan proses belajar.

Emosi berperan dalam membantu mempercepat atau justru memperlambat proses pembelajaran. Dan emosi juga membantu proses pembelajaran lebih bermakna dan menyenangkan. Berbagai penelitian menunjukkan adanya keterkaitan antara emosi dan struktur otak manusia.

 Goleman dkk (dalam Sugiharto,2007) menyatakan bahwa tanpa keterlibatan emosi, kegiatan syaraf otak kurang mampu merekatkan pelajaran dalam ingatan. Suasana emosi yang positif dan negatif membawa pengaruh pada cara kerja struktur otak manusia dan akan berpengaruh pula dalam proses dan hasil belajar.  Sebagimana dikatakan Goleman ( dalamSugiharto, 2007), ketika otak menerima ancaman atau tekanan ( tekanan negatif), kapasitas saraf untuk berfikir rasional mengecil karena otak dibajak secara emosional dan dituntut untuk bertempur. Dalam hal ini kapasitas otak beroperasi hanya pada tingkat bertahan hidup sehingga otak tidak dapat mengakses secara maksimal. Fenomena tersebut disebut dikenal dengan downshifting. Ketika kita belajar dalam kondisi demikian, maka kemampuan belajar menjadi kurang maksimal karena adanya hambatan emosi. Hal ini dirasakan pada saat seorang anak dipaksa belajar oleh guru atau orang tuanya,padahal anak tersebut tidak menyukai pelajaran tersebut. Maka yang terjadi adalah kerja anak tersebut hanyalah untuk bertahan agar tidak mendapat amarah atau hukuman dari guru atau orang tua, bukan untuk mempelajari materi secara maksimal.

Sebaliknya dengan tekanan positif atau suportif, otak akan terlibat secara emosional dan memungkinkan sel-sel saraf bekerja maksimal. Fenomena ini dikenal dengan eustress. Fenomena seperti ini muncul pada kondisi senang dan semangat belajar, dan kondisi demikian akan membuat seseorang maksimal dalam belajar. Dalam kondisi senang, seseorang akan belajar lebih lama dan lebih giat, sehingga hasil belajar akan maksimal. Disinilah motivasi seseorang akan bergerak dan mengarah dengan sendirinya untuk ketahanan pada tingkah laku tersebut.

  

Referensi

Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press Jln Gejayan.

 

 

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: