Aplikasi Teori Sigmund Freud Dalam Proses Bimbingan

Ada beberapa teori yang dapat diaplikasikan dalam bimbingan, yaitu

1.     Konsep kunci bahwa “manusia adalah mahluk yang memiliki kebutuhan dan keinginan”.

Konsep ini dapat dikembangkan dalam proses bimbingan dengan melihat hakikatnya, menusia itu memiliki kebutuhan – kebutuhan dan keinginan – keinginan dasar. Dengan demikian, konselor dalam memberikan bimbingan harus selalu berpedoman kepada ap yang dibutuhkan dan yang diinginkan oleh yang diberikan konseling, sihingga bimbingan yang dilakukan benar – benar efektif. Hal ini sesuai dengan fungsi bimbingan itu sendiri. Mortensen membagi fungsi bimbingan menjadi tiga, yaitu :

a. Memahami individu

Seorang guru dan pembimbing dapat memberikan bantuan yang efektif jika mereka dapat memahami dan mengerti persoalan, sifat, kebutuhan, minat dan kemampuan anak ddiknya. Karena itu, bimbingan yang efektif menuntut secara mutlak pemahaman diri anak secara keseluruhan. Karena tujuan bimbingan dan pendidikan dapat dicapai jika programnya didasarkan atas pemahaman diri anak didiknya. Sebaliknya bimbingan tidak dapat berfungsi efektif jika konselornya kurang pengetahuan dan pengertian mengenai motif dan tingkah laku yang dikonseling sehingga usaha preventif dan perawatan tidak dapat berhasil baik.

b. Preventif dan pengembangan individual

Preventif dan pengembangan merupakan dua sisi dari satu mata uang. Preventif berusaha mencegah kemunduran perkembangan seseorang dan minimal dapat memelihara apa yang telah dicapai dalam perkembangnnya melalui pemberian pengaruh – pengaruh yang positif, memberikan bantuan untuk mengembangkan sikap dan pola perilaku yang dapat membantu setiap individu untuk mengembangkan dirinya secara optimal.

c. Membantu individu untuk menyempurnakan

Setaip manusia pada saat tertentu membutuhkan pertolongan dalam menghadapi situasi lingkungannya. Pertolongan setiap individu tidak sama, jadi sangat tergantung apa yang menjadi kebutuhan dan potensi yang ia miliki. Bimbingan dapat memberikan pertolongan pada anak untuk mengadakan pilihan yang sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya.

2.      Konsep kunci tentang “kecemasan”.

Kecemasan yang dimiliki manusi dapat digunakan sebagai wahana pencapian tujuan bimbingan, yakni membantu individu supaya mengerti diri dan lingkungannya, mampu memilih, memutuskan dan merencanakan hidup secara bijaksana, mampu mengembangkan kemampuan dan kesanggupan, memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya, mampu mengelola aktivitasnya sehari – hari dengan baik dan bijaksana, mampu memahami dan bertindak sesuai dengan norma agama, sosial dalam masyarakatnya.

Dengan demikian, kecemasan yang dirasakan akibat ketidakmampuan dapat diatasi dengan baik dan bijaksana. Karena menurut Freud setiap manusia akan selalu hidup dengan kecemasan. Jadi, untuk itu bimbingan dapat menjadi wadah dalam rangka mengatasi kecemasan.

3.      Konsep psikolanalisis yang menekankan pengaruh masa lalu (masa kecil) terhadap perjalanan manusia.

Walupun banyak para ahli yang mengeritik, namun dalam beberapa hal, konsep ini sesuai dengan konsep pembinaan dini bagi anak – anak dalam pembentukan moral individual. Dalam sistem pembinaan akhlak individual, islam menganjurkan agar keluarga dapat melatih dan membiasakan anak – anaknya agar dapat tumbuh berkembang sesuai dengan norma agama dan sosial. Norma – norma ini tidak bisa datang dengan sendirinya, akan tetapi melalui proses interaksi yang panjang dari dalam lingkungannya. Bila sebuah keluarga mampu memberikan bimbingan yang baik, maka kelak anak itu diharapkan akan tumbuh menjadi manusia yang baik.

4.      Teori Freud tentang “tahapan perkembangan kepribadian individu”.

Teori tentang tahapan perkembangan kepribadian individu dapat digunakan dalam proses bimbingan, baik sebagai materi maupun pendekatan. Konsep ini memberi arti bahwa materi, metode dan pola bimbingan harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan kepribadian individu, karena pada setiap tahapan itu memiliki karakter dan sifat yang berbeda. Oleh karena itu konselor yang melakukan bimbingan haruslah selalu melihat tahapan – tahapan perkembangan ini, bila ingin bimbingannya menjadi efektif.

 5.      Konsep Freud tentang “ketidaksadaran”.

Konsep Freud tentang ketidaksadaran dapat digunakan dalam proses bimbingan yang dilakukan pada individu dengan harapan dapat mengurangi implus – implus doronga Id yang bersifat irasional sehingga berubah menjadi rasional.

Referensi :

Freud. Sigmund, 2008, Teori Kepribadian Sigmund Freud, Yogyakarta, Prismasophie

Explore posts in the same categories: Psikologi, Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: