Teori Metodologi Penelitian Kualitatif

Metodologi adalah proses, prinsip dan prosedur yang kita gunakan untuk mendekati problem dan mencari jawaban, dengan kata lain metodologi adalah suatu pendekatan umum untuk mengkaji topik penelitian. Metodologi dipengaruhi atau berdasarkan perspektif teoretis yang kita gunakan untuk melakukan penelitian, sementara perspektif teoretis itu sendiri adalah suatu kerangka penjelasan atau interpretasi yang memungkinkan peneliti memahami data dan menghubungkan data yang rumit dengan peristiwa dan situasi lain.

Dalam penelitian sosial, contoh metodologi adalah positivisme (yang berusaha menemukan hukum – hukum dengan menggunakan metode kuantitatif) dan metodologi kualitatif (yang sering bertujuan menghsilkan hipotesis dari penelitian lapangan).  Mereka yang biasanya menggunakan metode penelitian kuantitatif, mereka juga terkadang melakukan penelitian kualitatif sebagai penelitian pendahuluan. Mereka menyebutnya penelitian penjajahan (exploratory research). Tujuannya ialah agar peneliti lebih mengenal lingkungan penelitian, misalnya sebelum mereka menyusun kuesioner, mengambil sampel dan mengkuantifikasikan data yang diperoleh.

Lofland, 1971 dalam Mulyana 2010, mengemukakan bahwa penelitian kualitatif ditandai dengan jenis – jenis pertanyaan yang diajukannya, yakni: Apakah yang berlangsung di sini? Bagaimanakah bentuk – bentuk fenomena ini? Variasi apa yang kita temukan dalam fenomena ini? Lalu menjawab pertanyaan – pertanyaan itu secara terinci. Secara lebih spesifik, Denzin, 1978 dalam Mulyana 2010,  mengemukakan tujuh prinsip metodologis berdasarkan teori interaksi simbolik, yaitu :

  1. Simbol dan interaksi harus dipadukan sebelum penelitian tuntas,
  2. Peneliti harus mengambil perspektif atau peran orang lain yang bertindak (the acting other) dan memandang dunia dari sudut pandang subjek; namun dalam berbuat demikian peneliti harus membedakan antara konsepsi realitis kehidupan sehari – hari dengan konsepsi ilmiah mengenai realitas tersebut,
  3. Peneliti harus mengaitkan simbol dan definisi subjek dengan hubungan sosial dan kelompok – kelompok yang memberikan konsepsi demikian,
  4. Setting perilaku dalam interkasi tersebut dan pengamatan ilmiah harus dicatat,
  5. Metode penelitian harus mampu mencerminkan proses atau perubahan, juga bentuk perilaku yang statis,
  6. Pelaksanaan penelitian paling baik dipandang sebagai suatu tindakan interaksi sombolik,
  7. Penggunaan konsep – konsep yang layak adalah pertama – tama mengarahkan (sensitizing) dan kemudian operasional; teori yang layak menjadi teori formal, bukan teori agunf (grand theory) atau teori menengah (middle-range theory); dan proposisi yang dibangun menjadi interaksional dan universal.

Metode penelitian kualitatif dibedakan dengan metode penelitian kuantitatif dalam arti metode penelitian kualitatif  tidak mengandalkan bukti berdasarkan logika matematis, prinsip angka atau metode statistik. Metode kualitatif bisa kritis dan empiris. Penelitian kualitatif bertujuan mempertahankan bentuk dan isi perilaku manusia dan menganalisis kualitas – kualitasnya, alih – alih mengubahnya menjadi entitas – entitas kuantitatif. Dan problem yang dihadapi peneliti kuantitatif adalah bahwa mereka mengabaikan konstruksi sosial dan kultural dari variabel – variabel yang ingin mereka kolerasi.

Referensi :

Mulyana. Deddy Ph.D, 2010, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung; PT Remaja Rosdakarya.

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: