Validasi Skala Psikologi

Untuk mengetahui apakah skala psikologi mampu menghasilkan data yang akurat sesuai dengan tujuan ukurnya, diparlukan suatu pengujian validitas. Skala yang disusun berdasarkan kawasan ukur yang teridentifikasi dengan baik dan dibatasi dengan jelas, secara teoretik akan valid. Dari sudut cakupan isi, sejak awal pengembangan skala, relevansi item dengan tujuan ukur sebenarnya sudah dapat dievaluasi lewat nalar dan akal sehat ( common sense ) yang mampu menilai apakah isi skala memang layak digunakan untuk mengungkap atribut yang dikehendaki oleh perancang skalanya. Meskipun seperti itu, pembuktian empiris mengenai validitas skala masih harus dilakukan. Berikut adalah prosedur validasi skala psikologi yang biasa dilakukan. Berikut adalah prosedur validasi skala psikologi yang biasa dilakukan.

  1. Validasi Multitrait – Multimethod

Prosedur pengujian validitas skala dengan pendekatan multitrait-multimethod (Campbell & Fiske, 1959 dalam Azwar, 2007) merupakan salah satu metode dalam validasi konstrak. Pendekatan ini dapat digunakan bilamana terdapat dua trait atau lebih yang diukur oleh dua macam metode atau lebih. Sebagai ilustrasi sederhana, untuk menguji validitas skala kecemasan yang diberi respon dikotomi (YA dan TIDAK) kita memerlukan kriteria berupa skor dari skala lain yang juga mengukur trait kecemasan, misalnya : Tyler Manifest Anxiety Scale (TMAS) yang diberi respons dengan lima pilihan dan skor dari skala yang mengungkap atribut selain kecemasan. Hasil pengenaan skala – skala tersebut pada sekelompok subjek yang sama kemudian dikorelasikan satu sama lain dan koefisien – koefisien korelasinya dimasukkan ke dalam suatu matriks validasi. Koefisien korelasi di antara skor – skor skala ini dapat dihitung dengan formula kerelasi product – moment, yaitu:

ΣXY – ( ΣX ) (ΣY)/n

rxy  =  ______________________________

√[ ΣX2 – (ΣX)2/ n ] [ΣY2– (ΣY)2/ n ]

X dan Y = skor masing – masing skala

n = banyaknya subjek.

Dasar fikiran dalam validasi ini adalah bahwa adanya validitas yang baik diperlihatkan oleh korelasi yang tinggi antara dua pengukuran terhadap trait yang sama oleh dua metode yang berbeda, atau korelasi yang rendah antara dua pengukuran terhadap trait yang berbeda walaupun menggunakan metode yang serupa.

2. Validasi Konkuren

Dalam validasi tes berdasarkan kriteria, umumnya tes yang akan diuji validitasnya disebut sebagai prediktor. Statistik yang diperlukan dalam pengujian validitas ini adalah koefisien korelasi antara skor tes sebagai prediktor dan skor suatu kriteria yang relevan. Bila pengujian validitas suatu skala dalam menjalankan fungsi ukurnya dilakukan dengan melihat sejauhmana kesesuaian antara hasil ukur skala tersebut dengan hasil ukur instrumen lain yang sudah teruji kualitasnya atau dengan ukuran – ukuran yang dianggap dapat menggambarkan aspek yang diukur tersebut secara reliabel maka prosedurnya di sebut sebagai validasi konkuren. Dalam hal ini ukuran yang reliabel atau intrumen yang dianggap relevan itu diberlakukan sebagai kriteria validasi.

Untuk menguji kesesuaian hasil ukur skala dengan hasil ukur kriteria tersebut, data skor keduanya harus diperoleh dari sekelompok subjek. Komputasi koefisien korelasi antara skor subjek pada skala yang bersangkutan dan skor mereka pada kriterianya akan menghasilkan koefisien korelasi yang merupakan koefisien validitas skala yang bersangkutan.

Dari cara komputasinya, pengujian validitas konkuren tentu tidak sulit untuk dilakukan. Permasalahannya terletak pada menentukan kriteria validasi yang tepat. Kriteria ini tidak selalu harus berupa ukuran lain yang relevan. Namun kesukarannya adalah menemukan kriteria yang cukup reliabel, karena kekurangreliabelan skor kriteria akan menyebabkan underestimasi terhadap validitas skala yang diuji.

3. Makna Koefisien Validitas

Sebagaimana halnya dalam penafsiran koefisien. Reliabilitas, interpretasi koefisien validitas pun bersifat relatif. Tidak ada batasan universal yang menunjuk kepada angka minimal yang harus dipenuhi agar suatu skala psikologi dikatakan valid. Dalam estimasi validitas pada umumnya tidak dapat dituntut suatu koefisien yang tinggi sekalai, sebagaimana halnya dalam interpretasi koefisien reliabilitas. Koefisien validitas yang tidak begitu tinggi, katakanlah berada di sekitar angka 0,50; akan lebih dapat diterima dan dianggap memuaskan daripada koefisien validitas itu kurang dari pada 0,30 biasanya dianggap sebagai tidak memuaskan.

Apakah suatu koefisien validitas dianggap memuaskan atau tidak, penilaiannya dikembalikan kepada fihak pemakai skala atau kepada mereka yang bersangkutan. Dalam riset yang kesimpulannya didasarkan pada hasil ukur suatu skala atau suatu tes adalah sangat penting untuk menyajikn koefisien validitas indtrumen ukur tersebut disamping pelaporan koefisien reliabilitasnya. Hal itu dimaksudkan agar pembaca hasil riset dapat mengevaluasi sejauh mana data hasil riset itu dapat dipercaya.  Hal penting untk dijadikan pertimbangan adalah sejauhmana skala yang bersangkutan dapat bermanfaat dalam pengambilan keputusan. Seringkali suatu skala yang memiliki koefisien validitas tidak begitu tinggi masih dapat bermanfaat guna membantu pengambilan keputusan.

Referensi :

Azwar. Saifuddin, 2007, Penyusunan Skala Psikologi, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.

Explore posts in the same categories: Statistik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: