Kerangka Analisis Wacana

Analisa wacana adalah ilmu baru yang muncul beberapa puluh tahun belakangan ini. Aliran – aliran linguistik selama ini membatasi penganalisisannya hanya kepada soal kalimat dan barulah belakangan ini sebagai ahli bahasa memalingkan perhatiannya kepada penganalisa wacana (Lubis, 1993:12).

Banyak model analisis wacana yang diperkenalkan dan dikembangkan oleh para ahli. Eriyanto (2001) dalam buku Analisis Wacana-nya, menyajikan model – model analisis wacana yang dikembangkan, misalnya oleh Roger Fowler dkk. (1979), Theo van Leeuwen (1986), Sara mills (1992), Norman Fairclough (1998) dan Teun A. Van Dijk (1998). Dari sekian banyak model analisis wacana itu, model van Dijk adalah model yang paling banyak dipakai. Karena van Dijk mengelaborasikan elemen-elemen wacana sehingga bisa diaplikasikan secara praktis.

Model yang dipakai van Dijk ini kerap disebut sebagai “kognisi sosial”. Istilah ini sebenarnya diadopsi dari pendekatan lapagan psikologi sosial, terutama untuk menjelaskan struktur dan proses terbentuknya suatu teks. Nama pendekatan ini tidak dapat dilepaskan dari karakteristik pendekatan yang diperkenalkan oleh van Dijk. Menurut van Dijk, penelitian atas wacana tidak cukup hanya didasarkan pada analisis atas teks semata, karena teks hanya hasil dari suatu praktik produksi yang harus juga diamati (Eriyanto, 2001).

Melalui berbagai karyanya, van Dijk (Eriyanto, 2001), membuat kerangka analisis wacana yang dapat didayagunakan. Ia melihat suatu wacana terdiri atas berbagai struktur/ tingkatan, yang masing – masing bagian saling mendukung. Van Dijk membaginya ke dalam tiga tingkatan :

  1. Struktur makro. Ini merupakan makna global/ umum dari suatu teks yang dapat dipahami dengan melihat topik dari suatu teks. Tema wacana ini bukan hanya isi, tetapi juga sisi tertentu dari suatu peristiwa.
  2. Superstruktur adalah kerangka suatu teks: bagaimana struktur dan elemen wacana itu disusun dalam teks secara utuh.
  3. Struktur mikro adalah makna wacana yang dapat diamatai dengan menganalisis kata, kalimat, proposisi, anak kalimat, parafrase yang dipakai dan sebagainya.

Struktur atau elemen wacana yang dikemukakan van Dijk ini dapat digambarkan seperti berikut :

  1. Struktur Makro, hal yang diamati TEMATIK (Apa yang dikatakan?), elemen Topik.
  2. Superstruktur, hal yang diamati SKEMATIK (Bagaimana pendapat disusun dan dirangkai?), elemen Skema.
  3. Struktur Mikro,
    1.  Hal yang diamati SEMANTIK (Makna yang ingin ditekankan dalam teks berita), elemen Latar, detail, maksud, praanggapan, nominalisasi.
    2. Hal yang diamati SINTAKSIS (Bagaimana pendapat disampaikan?), elemen Bentuk kalimat, koherensi, kata ganti.
    3. Hal yang diamati STILISTIK (Pilihan kata apa yang dipakai?), elemen Leksikon.
    4. Hal yang diamati RETORIS (Bagaimana dan dengan cara apa penekanan dilakukan?), elemen Grafis, metafora, ekspresi.

Dalam pandangan van Dijk, segala teks bisa dianalisis dengan menggunakan elemen tersebut. Meski terdiri atas berbagai elemen, semua elemen itu merupakan suatu kesatuan, saling berhubungan dan mendukung satu sama lainnya.

Referensi : Sobur. Alex M.Si, 2009, Analisis Teks Media Suatu Pengantar untuk Analisis  Wacana, Analisis Semiotik dan Analisis Framing, Bandung, PT Remaja Rosdakarya.

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: